PAMEKASAN –Narasiplus.my.id- Menjelang Hari Raya Idul Fitri, aksi sosial besar namun minim publikasi dilakukan oleh CEO PT Bawang Mas Group, Khairul Umam yang akrab disapa Haji Her. Tanpa seremoni dan sorotan media, ia menyalurkan bantuan dengan nilai fantastis mencapai Rp45 miliar kepada anak yatim dan warga kurang mampu di Kabupaten Pamekasan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam satu hari, yakni pada Senin (16/3/2026), dengan metode penyaluran yang berbeda dari biasanya.
Disalurkan Langsung ke Rumah Penerima
Sebanyak lebih dari 4.000 anak yatim menerima santunan masing-masing sebesar Rp5 juta. Sementara itu, warga miskin mendapatkan bantuan sebesar Rp1 juta per orang.
Penyaluran bantuan dilakukan secara langsung ke rumah-rumah penerima yang tersebar di 13 kecamatan di wilayah Kabupaten Pamekasan. Untuk memastikan distribusi berjalan merata, tim khusus diterjunkan hingga ke tingkat desa.
Kami berikan ke rumahnya. Mereka tidak kami undang, tapi santunan kami antarkan,” ujar Haji Her.
Setiap wilayah kampung ditangani minimal tiga orang tim guna memastikan seluruh penerima mendapatkan haknya tanpa terlewat.
Tanpa Dokumentasi, Hindari Pencitraan
Berbeda dengan kegiatan sosial pada umumnya yang identik dengan publikasi, Haji Her justru melarang adanya dokumentasi selama proses penyaluran berlangsung.

“Saya memang memerintahkan untuk tidak ada dokumentasi. Biar semuanya berjalan natural,” tegasnya.
Proses penyaluran dimulai sejak pagi hari dan rampung pada sore hari, seluruhnya dilakukan secara senyap tanpa publikasi berlebihan.
Menurut Haji Her, langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap penerima bantuan. Ia ingin memastikan anak yatim dan warga kurang mampu tetap merasa dihargai tanpa harus datang, antre, atau menjadi perhatian publik.
Kasihan kalau harus datang dan antre. Lebih baik kita yang datang ke mereka,” ungkapnya.
Aksi sosial ini pun menuai perhatian publik karena dinilai berbeda dari pola penyaluran bantuan pada umumnya. Metode distribusi langsung ke rumah dianggap lebih efektif dan humanis.
Meski demikian, pendekatan tanpa dokumentasi juga memunculkan sejumlah pertanyaan terkait transparansi dan pengawasan. Namun, di sisi lain, langkah ini menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat dilakukan tanpa harus menjadi konsumsi publik.
Santunan dilakukan secara senyap, namun dampaknya nyata dirasakan masyarakat.(Tim/Red)








